Monday, July 06, 2009

Dapatkah Pelanggan Loyal Diciptakan ?

Assalamualaikum wr wb.

Pertanyaan tersebut seketika meluncur, apa iya pelanggan kita benar-benar loyal dengan produk yang kita jual ? Kalau benar bisa bagaimana caranya ? Dengan kondisi seperti sekarang ini, mempertahankan customer yang loyal menurut saya jauh lebih baik ketimbang mengejar customer yang baru, yang belum tentu teruji tingkat keloyalannya ! Lalu bagaimana caranya agar kita bisa mendapatkan loyal customer ?

Ok, dalam postingan kali ini akan dibahas secara khusus mengenai bagaimana kita bisa men create our loyal customer ? Bagi yang bekerja di bagian pemasaran, kata-kata target untuk mendapatkan pelanggan baru bukanlah hal yang baru, biasa, malahan itu sudah menjadi makanan sehari-hari :). Tetapi yang menjadi pertanyaan adalah dapatkan kita memberikan target itu kepada customer kita ? Jawabannya pasti No alias tidak bisa. Kita tidak bisa memaksakan our customer membeli produk kita (memberi target beli setaip bulannya), kalau hal ini tetap dilakukan apa yang akan terjadi ? Pelanggan akan merasa tidak nyaman, dan malah akan beralih ke kompetitor kita.
Alhamdulillah saya mempunyai experience yang bagus untuk di share, ini bukan cerita hayalan karena ini fakta dan saya bersama tim pernah melakukan survey langsung ke pelanggan. Ketika itu, kami sedang melakukan roadshow ke daerah-daerah untuk melakukan survey bagaimana distribusi produk kita di pasar. Kebetulan perusahaan kami menggunakan metode channeling yang terpisah dengan perusahaan alias menggunakan distributor untuk mendistribusikan produk di outlet-outlet. Nah dari beberapa outlet yang disampling untuk didatangi, mereka semua mengatakan senang apabila ada dari prinsipal yang mau memperhatikan mereka. Inilah jawaban yang selama ini kami cari, ternyata mereka tidak melulu mencari untung saat menjual produk kita, namun mereka juga sangat ingin diperhatikan oleh prinsipal. Karena dengan metode seperti itulah akan terbentuk ikatan emosional yang kuat antara prinsipal dan outlet.
Berdasarkan survey di lapangan tersebut, akhirnya manajemen memutuskan untuk mengadakan pelatihan kepada outleters mengenai manajemen arus kas, survival dan outbond. Dalam materi pelatihan tersebut tidak satupun mengharuskan mereka untuk menjual produk kita, tidak ada satu pun target agar mereka jualan produk kita. Hal ini membuat mereka sangat nyaman dalam mengikuti pelatihan tersebut. Acara ini diselenggarakan dalam 3 hari 2 malam, singkat cerita dalam perjalanan pulang menuju kampung halaman masing-masing yang ada di benak mereka hanyalah perasaan puas dengan acara yang telah diselenggarakan oleh kami. Tidak ada satupun yang komplain, padahal mereka harus meluangkan waktu khsusus untuk mengikuti pelatihan ini. Maklum kebanyakan dari mereka masih self employee (walau judulnya adalah pengusaha atau pemilik outlet), ya pemilik ya merangkap karyawan juga.
Nah apakah efeknya (mereka menjual produk kita lebih banyak ketimbang kompetitor) seketika ? Tentu tidak ! Tetapi kami sangat yakin, apa yang telah kita berikan kepada mereka akan membekas (selalu teringat) dengan produk kita. Kami tetap memonitor performance mereka dalam menjual produk kita tanpa mereka ketahui, secara overall distribusi produk kita jauh lebih baik dibandingkan sebelum diadakan pelatihan tersebut. Tolok ukur keberhasilan yang lain adalah setelah setahun kemudian, ternyata nama saya paling diingat oleh para pemilik outlet dan menanyakan kepada saya secara tidak langsung kapan acara semacam itu kembali diselenggarakan.

Contoh diatas adalah salah satu aplikasi men create our loyal customer, yaitu lebih membangun kedekatan, bicara dari hati ke hati, tidak perlu memberi mereka target untuk menjual, jadilah problem solvent (produk kita) bagi mereka dan terakhir buatlah mereka bangga ketika berhasil menjual produk kita.

Era top-down targetting buat customer sudah bukan eranya lagi, eranya sekarang adalah bagaimana mempertahankan existing loyal customer dan biarkan mereka menjadi free marketer kita (gartis). Baca juga artikel saya sebelumnya,
memenangkan market share tujuan utama ?

Sekarang anda yakin, bahwa loyal customer bisa kita ciptakan ?

Salam Sukses

Wassalamualaikum wr wb
Read rest of entry

Monday, June 22, 2009

Memenangkan Market Share Tujuan Utama ?

Assalamualaikum wr wb.

Dalam era kompetisi yang seperti sekarang ini banyak petinggi perusahaan berbeda dalam menyikapinya. Sebagai salah satu parameter ukuran keberhasilan perusahaan dalam memenangkan kompetisi adalah market share. Jika perusahaan berhasilkan memenangkan market share produknya, maka perusahaan tersebut sudah dianggap leading dalam memenangkan pasar.
Memenangkan market share menurut saya belum tentu juga inline dengan penghasilan (reveneu) yang dihasilkan, artinya jikalau market share menang belum tentu reveneu yang dihasilkan juga mengalahkan kompetitor.
Misal perusahaan rokok A, ketika unggul atau memenangkan market share perusahaan rokok B, belum tentu reveneu yang dihasilkan oleh perusahaan A jauh lebih baik dari perusahaan rokok B. Karena mungkin harga rokok B 2x lipat dari harga rokok B, sehingga revenue yang dihasilkan sama walaupun market share perusahaan B kalah dibandingkan dengan market share perusahaan A.

Contoh lain, seperti sabun, odol, parfum sampai kepada produk seluler (perdana atau voucher), analisa nya kurang lebih akan sama dengan case diatas.

Sehingga menurut saya, memenangkan kompetisi dengan memenangkan market share adalah hal yang wajar, namun kalau market share dijadikan satu-satunya parameter keberhasilan dalam mendistribusikan produk, saya kok kurang setuju ya...

Karena dalam satu perusahaan, goal yang paling utama adalah revenue. Kalaupun market share nya tumbuh dan bahkan unggul jauh dibandingkan dengan kompetitor, akan tetapi revenue nya terus turun buat apa ? Sama saja seperti ungkapan berikut ; "Lebih enak makan singkong beneran, daripada makan roti tetapi hanya dalam hayalan".

Nah yang paling menggelikan adalah apabila hanya gara-gara market share turun dan kemudian didahului oleh kompetitor, manajemen kebakaran jenggot dan mulai kelabakan tanpa strategi yang jitu membanjiri pasar dengan produknya, dengan harapan pasar akan kembali membeli produknya dan kembali memenangkan kompetisi.

Di masa krisis seperti ini, walau ada kebijakan shrinking budget kita tetap dituntut untuk bisa memenangkan pasar, mendistribusikan produk dan tetap menghasilkan revenue sesuai dengan yang ditargetkan perusahaan. Nah langkah apa yang paling tepat yaitu dengan memaintain pelanggan yang eksisting untuk tetap loyal dengan produk kita. Paling tidak kita bisa mengharapkan revenue yang sama dengan tahun kemarin, itu menurut saya sudah sangat bagus. Dengan komunikasi yang "mesra" antara perusahaan dan pelanggan, saya yakin pelanggan pasti merasa dipersonalkan (baca: diorangkan) oleh perusahaan, buat pelanggan nyaman dengan produk yang kita distribusikan, tanyakan kepada pelanggan kritik/saran buat perusahaan, berikan mereka perhatian walau itu kecil misal mengirimkan bunga saat pelanggan ulang tahun dsb. Pelanggan tersebut nantinya malah bisa menjadi free marketer agen perusahaan kita. Kok bisa ? Iya, karena dia puas dengan produk kita, dia akan menceritakan ke orang-orang, tidak perlu kita suruh, mereka akan jalan sendiri. Wow Amazing bukan ?

Kenapa tidak anda implementasikan ?
Saya pernah lontarkan ide ini ke beberapa teman, mereka bilang "wah kalau seperti itu kita akan capek mas !" Saya jawab, "oh iya pasti capek, tetapi kecapekan itu akan terbayar selama beberapa tahun ke depan, kalau mereka sudah menjadi free marketer kita, kita bisa memprioritaskan ke program yang lain".

Nah, sekarang tergantung kepada anda. Anda petinggi perusahaan atau pemilik perusahaan, tidak perlu panik, ketika market share produk anda tergrogoti oleh kompetitor. Yang perlu anda perhatikan adalah kontrol emosi anda, be creative, buat strategi yang jitu, maintain pelanggan eksisting, berdoa dan be a winner.

Salam Sukses...

Wassalamualaikum wr wb

Read rest of entry

Tuesday, June 09, 2009

Inspirasi Ketika Drive-in

Assalamualaikum wr wb.

Hampir setiap hari saya mengantar istri ke kantor di kota Jepara dan setelah itu saya melanjutkan perjalanan ke Semarang menuju tempat saya bekerja. Nah, di sepanjang perjalanan itulah saya banyak terinspirasi dan mengambil banyak hikmah.

Karena diburu-buru waktu dan memang ingin cepat sampai di tujuan, saya pikir semua orang waktu mengemudi pun demikian, secepatnya bisa sampai tujuan. Maka saya pacu mobil saya ketika ada kesempatan untuk mendahului kendaraan yang ada di depan, pasti akan saya lakukan. Nah, tak terhitung pula berapa kendaraan yang sudah saya dahului. Namun saya tiba-tiba teringat sesuatu, apa itu ? Saya mengamati beberapa mobil yang saya dahului rata-rata berangkat lebih dulu dibanding saya. Atau bisa dikatakan mereka start duluan, mungkin setelah beberapa menit kemudian, saya baru tiba di titik dimana mobil tersebut mulai berangkat. Bisa jadi karena mobil tersebut pelan atau memang tidak sedang buru-buru atau si pengemudi merasa dia sudah berjalan kencang, maka tidak seberapa lama saya berhasil mendahului mobil tersebut.

Saya menganalogikan hal ini dengan ketika kita memulai bisnis, ya jadi sangat menarik ! Ketika orang memulai bisnis, ketika bisnis mulai eksis, diakui dan mulai menampakkan hasil, maka tidak jarang dari kita, karena merasa sudah lebih dulu memulai dan tidak melihat akan adanya kompetitor atau cenderung terlena. Memulai suatu bisnis lebih dulu tidak menjamin, mereka akan selalu leading. Kalau mereka jalannya pelan atau tidak melihat sekelilingnya, sudah bisa dipastikan suatu saat akan didahului oleh kompetitor. Ada beberapa contoh perusahaan besar di Indonesia yang karena merasa lebih dulu hadir dan pada akhirnya didahului oleh perusahaan sejenis, salah satunya adalah S dan T. Pada 1995 S lebih dahulu memberikan layanan telekomunikasi bergerak pertama di Indonesia dan hadir pertama kali di Jakarta. Pada saat yang hampir bersamaan T hadir, namun tidak dimulai dari Jakarta, namun hadir di Batam. Maka persis seperti analogi diatas, karena merasa nyaman, jumlah pelanggan yang jauh lebih besar dan hadir lebih dahulu, membuat S tidak terlalu agresif dalam mendapatkan pelanggan baru. Terlebih ketika tahun 1998 saat terjadi krisis ekonomi yang dahsyat management PT S memutuskan untuk tidak membangun infrastruktur, lain hal nya dengan PT T management memutuskan sebaliknya, membangun infrastruktur khususnya di Jawa. Tahun berikutnya sudah bisa ditebak, pangsa pasar PT S di daerah Jawa mulai digerogoti oleh T, sedangkan posisi T di Sumatera sudah sangat kuat. Dan pada akhirnya jumlah pelanggan T berhasil melewati S, dalam 2 tahun berikutnya bahkan T meninggalkan jauh kompetitornya.

Banyak contoh yang lain, yang perlu kita petik sebagai pelajaran adalah tidak semua yang lebih dahulu hadir akan selamanya memimpin pasar. Jadi tidak perlu takut dalam berkompetisi, semua memiliki kans yang sama.

wassalamualaikum wr wb.



Read rest of entry

Tuesday, June 02, 2009

Belajar Dari Pertandingan Final Liga Champion

Assalamualaikum wr wb.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan menyaksikan final Liga Champion 2009. Yang menurut para pengamat sepak bola, inilah final Liga Champions impian, dimana menemukan dua kesebelasan hebat di belahan benua biru Eropa. Manchester United melawan FC Barcelona, dua-duanya memiliki squad yang handal di masing-masing lini. Dan seperti kita ketahui bersama bahwa hasil akhir adalah 2 - 0 untuk kemenangan FC Barcelona. Jadilah FC Barcelona memborong 3 gelar sekalogus dalam semusim, yaitu La Liga, Piala Raja dan Liga Champions.

Namun saya tidak akan membahas tentang euforia kemenangan Barcelona dan liputan pertandingannya, saya lebih senang untuk mempelajari siapa Tactician di balik kemenangan Barcelona. Dialah Josep "Pep" Guardiola, mantan pemain Barcelona di era Johan Cruyff dan Louis Van Haal, memang selalu menjadi pemain pilihan starting eleven di setiap pertandingan. Saat menjadi pemain pun, Guardiola pernah mengangkat trophy Piala Champions yaitu di era kepelatihan Johan Cruyff. Dan akhirnya, dia melengkapi trophy Liga Champions saat musim pertamanya melatih Barcelona. Ada satu hal yang sangat luar biasa, dia adalah pelatih yang belum mempunyai pengalaman dalam melatih klub besar. Saat Barcelona masih ditukangi Frank Rijkaard, Guardiola melatih Klub Yunior Barcelona (Barcelona B) itupun belum genap setahun. Sampai akhirnya dia ditunjuk sebagai pelatih senior FC Barcelona, semua orang terhenyak ! Tak terkecuali musuh bebuyutan mereka FC Real Madrid. Bagaimana mungkin klub sebesar Barcelona dilatih oleh pelatih yang tidak memiliki pengalaman seperti Pep Guardiola ! Benar saja, dalam enam pertandingan pertama Barcelona hanya bisa mengoleksi 1 poin. Namun, yang luar biasa setelah pekan ke-7 Barcelona selalu menang, sampai akhirnya posisi pertama berhasil di ambil alih sampai akhir musim.

Yang paling menarik dari semua trophy yang didapat musim ini apalagi kalau bukan pertandingan final Liga Champions. Yang mempertemukan dua pelatihan yang sangat berbeda profil suksesnya bersama klub masing-masing. Fergie sapaan Sir Alex Fergusson sangat fenomenal membawa Manchester United selama 23 tahun melatih, 18 trophy Liga Premiere, 2 Piala Champion dan masih banyak trophy yang lain. Sedangkan lawannya, Pep Guardiola baru semusim melatih dan baru saja memperoleh dua gelar sekaligus di musim pertama sebagai pelatih tim senior. Sangat kontras bukan ?? Tetapi malam itu, anggapan bahwa usia senior lebih hebat dari yunior terbantahkan ! Malam itu, benar-benar ManU tidak berkutik menghadapi derasnya aliran bola pemain-pemain Barcelona. Lebih-lebih setelah gol pertama berhasil dicetak oleh tim Catalan, benar-benar meruntuhkan mental pemain Man U. Sampai peluit akhir ditiup, kedudukan 2-0 untuk kesebalasan Barcelona. Luar biasa...
Apa yang bisa kita pelajari dari pertandingan itu ?

Kalau saya melihat racikan strategi Barcelona sangat jitu, sehingga membuat Manchester United salah mengantisipasinya. Terutama penempatan Leonel Messi yang tidak seperti biasanya sampai kepada permainan individu yang sangat bagus dan rapih. Serta komitmen para pemain terhadap instruksi sang pelatih. Sehingga nilai plus ada di sisi Pelatih, dia masih muda, miskin pengalaman namun bisa mengalahkan pelatih sekaliber Sir Alex Fergusson. Kuncinya apa ? Pengalaman melatih ? Jelas Pep kalah dan tidak ada apa-apanya dibanding dengan Sir Alex.

Jadi walau Pep masih muda, belum tentu secara pengalaman dia kalah dibanding dengan Sir Alex. Karena Pep mau belajar dari orang lain ! itu kuncinya ! Berpengalaman itu tidak harus mengalami sendiri, tetapi bisa juga dengan mempelajari pengalaman orang lain.

Dalam bisnis, kita mengenal konsep waralaba. Konsepnya adalah membuat log atau catatan kesalahan-kesalahan yang pernah dibuat dan bagaimana cara mengatasinya, agar kedepannya franchisee mengalami masalah yang sama, sudah ada guidance dalam menyelesaikan masalah.


Salam Sukses...

Wassalamualaikum wr wb

Read rest of entry

Thursday, May 14, 2009

Yuk Mencari Uncomfort Zone

Assalamualaikum wr wb.

Banyak diantara kita entah yang berprofesi sebagai karyawan, pengacara, dokter maupun pengusaha sekalipun sering kali merasakan suatu kenyamanan dalam profesinya atau di posisinya sekarang. Karena rata-rata dari kita merasa kalau sudah berada di situasi yang nyaman, cenderung malas untuk mencari tantangan baru. Dengan kondisi (posisi) yang sudah nyaman akan membuat kita lengah, dan cenderung turun kualitas kreatifitasnya.

Bayangkan, jika ada satu perusahaan besar (paling besar diantara perusahaan kompetitor sejenis) karena merasa paling hebat, paling besar, paling berprestasi sehingga perusahaan tersebut berada di comfort zone, maka biasanya merasa besar kepala dan cenderung meremehkan kompetitornya. Yang perlu dijadikan bahan pemikiran adalah apakah kompetitor kita akan selalu menjadi follower (baca : lengah) ? Apakah di benak mereka tidak ada niatan untuk menggeser posisi kita ? Secara normal, jelas semua kompetitor akan berusaha untuk membuat perusahaannya menjadi yang terbaik dan terhebat dalam segala hal. Itu yang sring tidak kita sadari bersama, ketika kita lengah karena atribut kita sudah paling hebat, paling baik, paling berprestasi dan sebagainya, maka secara tidak langsung akan mengurangi kreativitas dan inovasi kita. Cenderung mengabaikan kompetitor, apa yang dilakukan oleh kompetitor dianggap menjiplak kreativitasnya. "Kok mirip dengan materi iklan perusahaan kita ya ?" atau yang paling ironis "wah itu mah kita banget ya ?". Ya itulah beberapa contoh kalimat yang muncul ketika kita merasa paling segalanya. Lupa, kalau tiba-tiba kompetitor siap menelikung kita.

Judul diatas sengaja saya munculkan agar kita selalu ingat, bahwa zone nyaman tidak selamanya baik buat kita. Selama kita menikmati kenyamanan, niscaya sengaja atau tidak, percaya atau tidak akan menurunkan kreativitas dan inovasi kita. Sehingga lambat laun, performa anda atau perusahaan anda akan tergeser oleh kompetitor anda. Bagaimana mengatasinya ?

Solusinya adalah dengan mencari zona tidak nyaman, ya betul. Orang-orang berlomba-lomba mencari zona nyaman, tetapi saya menyarankan sebaliknya. Jadi setiap kali hasil yang anda peroleh memuaskan, atau tantangan yang anda targetkan terlampaui, segeralah cari tantangan baru. Dengan begitu anda akan terasah untuk selalu kreatif dan inovatif.

Selamat mencoba.....

Salam sukses...

Wassalamualaikum wr wb
Read rest of entry

Monday, April 06, 2009

Mau Jadi Milyarder, Kenapa Mesti Malu ?

Assalamualaikum wr wb.

Judul yang aneh bukan ? Biasanya kita tidak perlu menanyakan lagi kepada seseorang ketika pertanyaannya adalah "kamu mau jadi milyarder ?". Dan jawabannya sudah pasti 100% mau. Dan jika ada jawaban tentang bagaimana bisa menjadi milyarder, belum tentu semua orang mau mengikuti langkah-langkahnya. Tetapi judul yang saya ambil kali ini memang berdasarkan pengalaman dan sharing dengan rekan-rekan yang sudah berhasil, jadi memang ada contoh riilnya.

Beberapa waktu yang lalu, saya berkesempatan mengikuti mastermind Lawangsewu. Kebetulan, saya termasuk salah satu penggagas berdirinya kelompok tersebut. Mastermind adalah suatu kelompok yang terdiri dari beberapa orang yang konsen dengan bisnis, memiliki visi misi yang sama dan mempunyai komitmen yang kuat diantara anggotanya. Kelompok ini terdiri dari 3 orang, namun saat pertemuan kemarin kami juga mendapat kunjungan dari kelompok lain yang mau berbagi. Singkat cerita, mereka menceritakan bisnisnya masing-masing dan kiat-kiatnya untuk sukses. Nah, yang cukup menarik adalah ketika salah satu dari mereka sekarang mulai merambah bisnis "ketengan", atau dia menyebut sebagai bisnis recehan, karena memang dapatnya uang recehan. Bisnis recehan tersebut dijalankan menggunakan gerobak dorong, namun yang sudah dimodifikasi. Kalau pernah melihat orang menjual martabak menggunakan gerobak dorong, ya mirip seperti itu, namun komiditinya adalah gorengan. Ya macam-macam gorengan dia sediakan, ada tahu, pisang, bakwan, mendoan dan sebagainya. Saat ini, beliau mengelola kurang lebih ada sebanyak 100 gerobak. Memang beliau tidak menceritakan detil penghasilan per gerobaknya, namun saya sendiri sudah bisa membayangkannya. Kita coba raba berapa penghasilan per gerobaknya ? Harga gorengan saat ini per satuannya adalah Rp. 500,- artinya kalau dalam setengah hari bisa menjual rata-rata 200 gorengan, artinya omset satu gerobak per harinya adalah Rp. 100.000,-. Kalau dikalikan 100 gerobak, artinya per hari omsetnya adalah Rp. 10.000.000,- Wow Amazing !!! Rp. 10 Juta per hari, kalau sebulan omsetnya kira-kira sama setiap harinya berarti Rp. 300 Juta. Jualan gorengan tok, omsetnya Rp. 300 Juta per bulan, wow... Luar Biasa...Misalkan keuntungan bersih dari gorengan adalah 10%, maka sebulan beliau mengantongi laba sebesar Rp. 30 Juta. Ini sama dengan penghasilan eksmud di perusahaan multinasional. Luar biasanya beliau tidak terlibat langsung, bahkan karyawannya aja tidak saling kenal dengan beliau. Hebats... Tertarik ? Tinggal kita ATM ajah... (Amati, Tiru dan Modifikasi) sistem dan komiditinya.
Masih ingat dengan TELA KREZ, ya betul. Bisnisnya telah memenangkan Juara 1 Wirausaha Muda Mandiri tahun 2008. Mau tahu apa bisnisnya ? Ya sesuai namanya dia jualan ketela alias singkong. Ya begitu sederhana, tetapi hasilnya sangat mengesankan. Menurut kabar yang pernah saya terima, penghasilan per bulannya tidak kurang dari Rp. 2 Milyar... Dahsyat !!!
Dari maraknya bisnis pulsa, tidak heran jika mereka-mereka yang sukses berhasil menghasilkan omset per hari hingga Rp. 1 Milyar. Padahal itu hanya dari penjualan pulsa dengan denominasi tak lebih dari Rp. 10.000. Pertanyaannya apakah mungkin dengan rata-rata denominasi Rp. 10.000,- bisa menghasilkan omset harian sebesar Rp. 1 Milyar. Ya sangat bisa ! Apa kuncinya ? Yuk kita hitung-hitung possibility nya. Satu Milyar dibagi sepuluh ribu berapa ya ? Seratus ribu bukan, kalau seratus ribu dibagi dengan 5000 reseller ada berapa masing-masing ? Jawabnya 20 bukan ? Nah penjelasannya begini, dengan memiliki 5000 reseller, masing-masing reseller menjual 20 transaksi dengan denominasi Rp. 10.000,-. Maka per hari kita akan memiliki omset harian dari bisnis pulsa sebesar Rp. 1 Milyar. Dan untuk bisnis pulsa memang keuntungannya sangat tipis antara 1 - 3 %. Katakanlah keuntungan bersih hanya 1%, maka penghasilan bersih harian adalah sebesar Rp. 10 Juta, sebulan Rp. 300 Juta. wow...
Masih ada contoh dari bisnis recehan yang lain, dari internet marketing anda bisa juga berkesempatan menjadi Milyarder. Anne Ahira yang katanya pakar Internet Marketing Indonesia itu penghasilan bulanannya tidak kurang dari US$45,000 itu belum termasuk dia punya lembaga pendidikan non formal yang diperkirakan bisa menghasilkan tidak kurang Rp. 250 Juta per bulannya. Apa yang Anne Ahira lakukan ? Ternyata juga tidak jauh dari "bisnis recehan" yang jumlahnya mencapai ratusan. masing-masing website yang dia buat menghasilkan rata-rata US$500
Nah, pertanyaan saya sekarang ? Apakah anda masih malu-malu bisnis recehan ? Padahal kalau diakumulasikan, penghasilannya bisa mencapai Milyaran. Kadang kita malu untuk memulai bisnis receh, pinginnya yang keren, mahal. Padahal yang keren dan mahal itu butuh modal yang besar. Sudah gitu, belum tentu pasarnya memang mencari produk yang anda buat. Tidak usah malu untuk memulai bisnis recehan, karena justru itulah niche market yang tidak semua orang mau garap. Padahal, jangan-jangan demand nya besar namun supply nya sedikit.

Selamat berusaha.
Go Double Income...
Salam Sukses Luar Biasa

Wassalamualaikum wr wb.
Read rest of entry

Thursday, March 26, 2009

Employee Go Public

Assalamualaikum wr wb


Beberapa waktu lalu saya berbincang dengan beberapa teman kantor di kafe sambil menikmati sarapan pagi. Seperti biasa, perbincangan tidak fokus dalam satu hal. Tetapi karena ada saya disitu (dlm hal ini provokator), arah pembicaraan tidak jauh dari bisnis. Teman-teman saya itu sangat setuju kalo rejeki itu sudah ada yang mengatur! Alloh swt penguasa alam semesta Yang Maha Segalanya. Jadi mereka sependapat even resign dari kantor dan mulai buka usaha/bisnis sendiri maka rejekinya tidak akan berkurang. Atas pemikiran itu ada satu teman yang sebetulnya di kantor sudah jenuh di unit tertentu dan ingin sekali mencoba berkarya di unit lain, namun atasannya tidak mengijinkan dia pindah, dia mengancam akan resign jika tidak diijinkan pindah ke unit lain. Lain lagi teman yang lain, beliau masih muda umur sekitar 25 thn tetapi bisnisnya sudah mulai tumbuh. Bisnisnya adalah jual beli blackberry, legal lo bukan yang unlock an :d. Saking banyaknya order, beliau mau mencari outlet di salah satu mall kota Semarang. Sementara bisnisnya dikampung (Blitar, Jawa Timur) juga grow up, yaitu bisnis susu sapi. Luar biasa ! Yang lebih hebat lagi saat beliau berjumpa saya setelah sarapan pagi, beliau mengungkapkan sebenarnya bulan ini mau full TDA. Tetapi karena orang tua belum mengijinkan, maka dia tunda beberapa waktu. Wow amazing !!! Padahal saya sendiri berencana full TDA di 2013, saat ini baru merintis salah satunya melalui hosting yang mewaralabakan bisnisnya. Ya tidak ada salahnya aku coba! Alhamdulillah sudah ada beberapa order walau belum banyak dan sering. Saya membeli waralaba tersebut September 2008, kerjasama dengan hosting ternama Indonesia idwebhost jadilah saya owner www.pesanwebhosting.com. Untuk mewujudkan dream saya di 2013, saya dan beberapa rekan membentuk kelompok mastermind, kelompok tersebut saya beri nama MM Lawangsewu yang artinya menebar rahmat dari 1000 pintu rejeki. Ada yang unik dari kelompok ini, karena pertemuan awal di Masjid Baitur Rahman Semarang ba'da Maghrib. Masing-masing member masih bekerja, namun semua member komit untuk segera Full TDA secara bersamaan. Bisnis masing-masing member juga berlainan, ada yang konsen property, ada yang konsen busana muslim dan ada yang konsen ke IT. Konsep yang saya tawarkan adalah konsep bisnis dengan norma-norma Ilahiyyah (ke-Tuhanan). Kesolehan member adalah mutlak, karena dengan personal yang solehlah bisnis bisa bertumbuh dan menebar rahmat. Lebih lanjut, saya ingatkan teman-teman "Siapa yang membukakan hati pelanggan untuk membeli produk kita, kalau bukan Alloh swt". Memang di awal pertemuan kemarin belum ada program yang jelas, namun pertemuan minggu depan sudah akan dimulai dengan menggali potensi diri masing-masing dan mulai action untuk saling mensukseskan membernya.
Jadi kini memang giliran employee go public, menampilkan jati diri yang sebenarnya tanpa takut ada tekanan dari atasan di kantor, lebih creative dan inovative menyongsong masa depan yang lebih menantang.
Awali langkah anda walaupun itu kecil dimata orang lain, karena dengan melangkah jauh lebih baik daripada jadi pengamat.


Salam go double, triple soon.


Wassalamualaikum wr wb


M Suharto
Owner www.tokotoedo.com
www.pesanwebhosting.com
Read rest of entry
 

Diary Harto :: Sebuah Catatan Harian Copyright © 2009 Gadget Blog is Designed by Ipietoon Blogger Templates Sponsored by Online Business Journal